Hai jumpa lagi di blog Jendela Mama. Kali ini saya ingin sharing tentang apa yang saya rasakan di hampir 2 tahun belakangan ini. Ya dari judul di atas tentunya kalian sudah menebak arah tulisan saya. Hanya 1 kata dan begitu mewakili apa yang saya rasakan.
BAHAGIA
Perasaan bahagia pada setiap orang berbeda-beda pemicunya. Ada yang dengan cara memiliki materi berlebih, meraih cita-cita, membeli barang-barang impian, memiliki rumah besar, tetapi ada juga yang sudah bahagia dengan apa yang ia makan hari ini. Termasuk saya, pada titik ini puncak kebahagiaan saya adalah putri saya.
Bisa dikatakan dialah alasan mengapa saya tetap bahagia dan harus bahagia, karena sebagai seorang mama saya tetap harus memancarkan energi positif dan mengajarkan hal-hal yang baik. Untuk tetap bisa melakukan itu semua tentunya saya harus bahagia terlebih dahulu. Dan dengan melihat senyum manisnya itu sudah lebih dari cukup.
Hai sahabat setia Jendela Mama jika sebelumnya kalian sudah membaca postingan tentang Pengalaman menjalani operasi caesar plus tips agar jahitan cepat kering maka kali ini saya akan sharing tentang tumor payudara yang berada di payudara saya selama bertahun-tahun. Untuk pengalaman menjalani operasi pengangkatan tumor jinak ini akan saya share di postingan selanjutnya.
Tumor jinak atau FAMÂ (Fibroadenoma Mammae)Â kebanyakan dialami oleh wanita di masa produktif 15-35th. Dulu saat sadar bahwa di payudara kiri saya terdapat benjolan yang sudah sebesar bola pingpong saya berusia 18 tahun. Pada tahun-tahun awal tumbuhnya benjolan itu saya sama sekali tidak merasakan nyeri. Tetapi pada tahun ke 3 tepatnya ketika saya masih duduk di bangku kuliah, rasa nyeri itu mulai datang terutama saat tubuh dalam kondisi yang kelelahan. Rasa nyeri itu juga muncul ketika emosi saya tidak stabil. Ketika dalam kondisi sedih rasa nyeri di payudara terasa hingga menjalar ke tangan kiri. Entah itu hanya sugesti yang berlebihan atau bukan tapi rasa nyeri itu nyata.
Setelah sempat putus asa dan pasrah maka saya memutuskan untuk kontrol ke dokter. Menurut hasil diagnosa awal benjolan yang terdapat di payudara kiri saya adalah tumor jinak. Dokter menyarankan untuk segera dilakukan tindakan operasi dan saya meminta waktu untuk berfikir. Namun saya memutuskan untuk menundanya. Hal ini karena saya takut meja operasi. Saya takut tidak bisa bangun lagi setelah dibius (maklum masih labil waktu itu), dan takut setelah dioperasi justru membangunkan macan tidur.
Next akan saya share lagi di postingan selanjutnya. 😊
Hai para Mama dimanapun berada kali ini saya ingin berbagi pengalaman dan sedikit tips untuk Mama yang akan menjalani Sectio Caesarea atau Operasi Caesar.
Selama hamil saya rutin berjalan kaki kurang lebih 45 menit setelah subuh. Dan juga rutin untuk senam kecil dengan harapan agar bisa menjalani persalinan pervaginam dengan lancar.
Namun memasuki H-3 Hari Perkiraan Lahir (HPL) ada cairan yang saya duga adalah cairan ketuban yang merembes. Saya dan suami lalu memeriksakan ke dokter spesialis kandungan perihal hal tersebut dan benar saja itu adalah cairan ketuban. Saat itu juga dokter merujuk ke Rumah Sakit. Perasaan saya campur aduk takut, cemas, senang, jadi satu. Sesampainya di Rumah Sakit langsung di infus dan secara rutin diperiksa karena saya tidak mengalami kontraksi dan tidak merasakan sakit perut layaknya orang yang akan melahirkan. Kemudian saya di induksi dengan obat yang dimasukkan ke dalam kelamin (rasanya seperti di bor sakit sekali) dan menunggu seharian tetapi tidak ada perubahan. Selama seharian pembukaan masih pembukaan 1 pada akhirnya dokter memutuskan untuk melakukan tindakan operasi caesar. Sebelum dibawa ke ruang operasi ada perawat yang membawakan baju khusus. Setelah selesai berganti baju perawat lalu memasangkan kateter.
Saya lalu dibawa menuju ke ruang operasi yang suhunya sangat dingin (ternyata suhunya sengaja dibuat dingin agar tetap steril). Dokter anastesi lalu meminta saya untuk duduk dan tibalah saya untuk disuntik bius (dan lagi lagi ini sakit sekali). Selama operasi berlangsung saya mengalami sakit kepala yang luar biasa dan isi perut keluar semua alias muntah karena operasi nya dadakan dan saya sudah terlanjur makan siang sebelumnya. Operasi berlangsung selama 2 jam dan alhamdulillah lancar.
Setelah operasi selesai saya lalu dibawa ke ruang pemulihan (disini kepala masih pusing) dan ada alat otomatis yang fungsinya untuk mengukur denyut nadi serta tekanan darah. Saya ingat saat itu tekanan darah saya sekitar 180 padahal biasanya 90/70. Di dalam ruangan pemulihan itu saya tidak sendirian melainkan bersama pasien lain yang juga telah menjalani operasi.
Saya berada di ruang pemulihan itu sekitar 4 jam. Setelah stabil perawat memindahkan saya ke kamar rawat inap. Dan akhirnya saya bisa bertemu suami, dan kerabat yang lainnya. Dokter menyarankan agar melatih tubuh agar bisa duduk dan menyusui anak saya. Namun setelah 2 hari dan 3x percobaan inisiasi menyusu dini asi saya juga tidak kunjung keluar. Namun saya tidak menyerah, suami lalu membelikan ekstrak daun katuk. Dan benar saja asi saya sedikit demi sedikit keluar.
Singkat cerita pasca operasi saya rutin mengonsumsi ikan gabus yang direbus atau disemur. Selain ikan gabus saya juga banyak mengonsumsi telur rebus dan sayuran. Saya juga mengurus anak saya sendiri karena kondisi ibu mertua yang sudah berumur, saya tidak tega jika harus merepotkan beliau. Dan itu ternyata menjadi alasan kenapa jahitan saya cepat kering. Ya, tepat sekali karena anggota tubuh selalu bergerak membuat peredaran darah menjadi lancar dan luka cepat mengering.
Dan itu dia tips dari saya agar luka pasca operasi cepat kering Mama harus mengonsumsi makanan yang mengandung protein tinggi dan albumin, contohnya ikan gabus, dan telur. Mama juga harus selalu aktif bergerak agar peredaran darah menjadi lancar sehingga luka cepat sembuh dan tubuh menjadi sehat kembali. Tetap semangat ya Ma, meskipun melahirkan secara caesar tetapi kita tetaplah ibu yang sempurna.
Hai beauties, sebagai pemula rasanya hal yang sangat wajar jika mengalami kebingungan saat akan memakai make up. Mulai dari peralatan kosmetik apa saja yang digunakan dan tahap-tahapan nya. Disini saya akan mengulas apa saja sih urutan pakai make up yang benar bagi pemula versi Jendela Mama. Yuk kita mulai saja ya.
1. Membersihkan wajah
Sebelum memulai ritual ber “make-up” hal pertama yang harus dilakukan ialah membersihkan wajah. Wajah harus bebas dari debu, kotoran, dan minyak agar makeup bisa awet seharian. Namun, sebelum memulai hal tersebut pastikan tangan kamu sudah bersih sehingga kotoran yang ada ditangan tidak berpindah ke wajah ya beauties. Kamu bisa menggunakan milk cleanser terlebih dahulu, setelah dibersihkan dengan cleansing selanjutnya membersihkan menggunakan facial foam agar noda bisa terangkat maksimal.
2. Moisturizer atau Pelembab
Setelah wajah bersih maka urutan berikutnya ialah mengaplikasikan moisturizer atau pelembab. Pelembab sangat penting karena menjaga kulit agar tetap terhidrasi dengan baik meskipun memakai make up seharian. Bagi kamu yang memiliki kulit kering disarankan untuk menggunakan pelembab dengan tekstur krim sedangkan pelembab dengan tekstur lotion/gel untuk kulit yang berminyak.
3. Foundation
Urutan berikutnya adalah memakai foundation. Sebaiknya kamu memakai foundation dengan tekstur cair daripada tekstur krim atau powder. Alasannya karena foundation cair lebih mudah diaplikasikan dan hasilnya terlihat natural. Agar hasilnya tidak terlihat cakey maka kamu perlu alat bantu yaitu spons yang sudah dibasahi dengan air hangat dan diperas.
3. Concealer
Setelah menggunakan foundation langkah selanjutnya adalah mengaplikasikan concealer pada area yang ingin disamarkan. Concealer yang digunakan lebih baik disesuaikan dengan warna kulit. Jika kulitmu terang maka gunakanlah concealer dengan warna terang atau cenderung pucat, namun jika kulitmu sawo matang atau kuning langsat maka warna concealer kuning/oranye sangat direkomendasikan.
4. Bedak
Selanjutnya adalah memakai bedak tabur dan bedak padat. Bedak tabur diaplikasikan terlebih dahulu di area T-zone dan juga di bawah mata. Untuk kulit kering sebaiknya tidak terlalu banyak menggunakan bedak tabur. Setelah itu aplikasikan bedak padat ke seluruh bagian wajah sampai leher agar leher tidak terlihat belang.
5. Alis
Urutan yang selanjutnya adalah menggambar alis. Agar alis terlihat natural pensil alis jangan terlalu ditekan cukup di gores menyesuaikan bentuk alis. Selanjutnya agar terlihat lebih rapi maka kamu perlu menggunakan foundation atau concealer untuk menyamarkan rambut alis.
6. Eyeshadow
Sebelum mengaplikasikan eyeshadow kamu harus menentukan terlebih dahulu look natural atau glamour. Jika kamu ingin terlihat natural maka gunakanlah warna nude namun jika kamu ingin terlihat glamour maka pilihlah warna cerah dengan kombinasi gliter. Kamu juga bisa mix match beberapa warna sekaligus namun pada porsi yang pas. Riasan eyeshadow harus seimbang dengan make up dan dress code yang kamu kenakan.
7. Blush on
Agar wajah terlihat lebih fresh maka kamu perlu memakai blush on. Pemakaian blush on harus disesuaikan dengan bentuk wajah dan warna kulit. Untuk kamu yang memiliki kulit putih maka warna peach dan warna netral lainnya cocok digunakan. Namun, jika wadna kulitmu kuning langsat sebaiknya menggunakan warna pink dan bagi kamu pemilik kulit gelap maka gunakanlah warna dark peach, rose, atau purple.
8. Lipstik
Urutan kedelapan dalam memakai make up adalah lipstik. Sebelum menggunakan lipstik hal pertama yang harus kamu lakukan ialah mengoleskan lip balm untuk melembabkan kulit bibir. Selanjutnya jika kamu menginginkan lipstik yang tahan lama maka gunakanlah lipstik matte namun jika kamu menginginkan lipstik yang membuat bibirmu menjadi lebih fresh maka pilihlah lipstik glossy.
Nah itu dia kedelapan urutan memakai make up yang benar untuk pemula. Gimana mudah banget kan?
Saya sering menghabiskan lebih banyak waktu di meja untuk melakukan segala hal mulai dari menyiapkan pajak hingga menulis blog. Maka, ruang kerja saya terus berubah. Merapikan banyak barang sangat menantang, sehingga saya lebih suka menyimpan sedikit barang berkualitas yang multifungsi daripada menyimpan tumpukan barang yang mungkin tidak pernah saya butuhkan.
Buku agenda saya adalah buku ring binder sederhana yang dapat Anda beli di toko alat tulis. Kertas putih. Tidak ada garis untuk mengurung tulisan tangan dan coretan saya yang berani. Saya seorang pencatat obsesif yang mengisi setiap halaman hingga tepinya dengan daftar tugas, sketsa kasar, dan ide untuk pos blog. Biasanya saya menghabiskan satu buku agenda setiap bulan.
Siapa, saya? Terstruktur? Suami saya mungkin akan bilang sebaliknya, teapi saya merasa kesulitan untuk mencatat jadwal mingguan kami. Jadwal seperti: sekolah, berenang, berbelanja, merapikan rumah, membayar tagihan, mengingat janji temu, dan lainnya. Untungnya, seisi rumah ikut serta. Tidak ada yang mengerjakan semuanya sendirian. Kami punya rahasia kecil yang membantu hari kami berjalan lebih lancar.
Tersedia jutaan petunjuk tentang cara naik pesawat bersama anak-anak, hal yang perlu dibawa saat liburan berkemah, koper yang harus dibeli, tujuan liburan, dan obyek wisata yang harus dilihat di seluruh dunia. Yang ingin saya bagikan hari ini sedikit berbeda – tentang sesuatu yang kami temukan selama mendaki di Appalachian bersama keluarga di musim panas lalu.